
GerbangKalbar.com, Sintang, Kalbar – Kelangkaan BBM di Sintang kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir. Warga Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, mengeluhkan sulitnya memperoleh Pertalite di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Bahkan untuk mendapatkan Pertamax, masyarakat harus mengantre lebih dari satu jam.
Fenomena BBM Langka di Sintang ini juga berdampak pada kios-kios penjual BBM eceran yang biasanya menjamur di Kota Sintang.
Sejumlah pedagang mengaku kehabisan stok dan tidak lagi memiliki pasokan premium untuk dijual.
Situasi semakin diperparah dengan aktivitas pelansir BBM subsidi yang setiap hari turut mengantre di SPBU.
Akibatnya, antrean kendaraan semakin berjubel dan memicu kemacetan parah di ruas jalan sekitar SPBU.
Kondisi Kelangkaan BBM Sintang ini menimbulkan keresahan masyarakat karena distribusi energi yang tidak stabil berdampak langsung pada aktivitas ekonomi dan mobilitas warga.
Pertamina Depot Sintang Ungkap Penyebab BBM Langka
Menanggapi kondisi BBM Langka di Sintang, Kepala Depot Pertamina Sintang, Rizky Firmansyah, memberikan penjelasan resmi dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Sintang pada Jumat, 13 Februari 2026, di Pendopo Bupati Sintang.
Rizky Firmansyah menyebut faktor utama Kelangkaan BBM Sintang adalah rendahnya curah hujan sejak Januari hingga pertengahan Februari 2026 yang berdampak pada surutnya Sungai Kapuas.
“Sejak Januari sampai pertengahan Februari 2026 curah hujan sangat rendah dan menyebabkan air Sungai Kapuas berada di level 2,1 meter. Sementara agar tugboat Pertamina bisa beroperasi, minimal 4 meter,” jelas Rizky Firmansyah seperti dilansir dari release Kominfo Sintang.
Distribusi BBM ke Sintang selama ini sangat bergantung pada jalur sungaisungai.
Berkurangnya debit air Sungai Kapuas serta pendangkalan membuat kapal pengangkut BBM tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Tiga Kapal Tertahan, Stok Hanya Emergency
Rizky Firmansyah mengungkapkan saat ini terdapat tiga kapal milik Pertamina dengan kapasitas masing-masing 4.500 kiloliter (KL) yang tertahan di Sanggau dan belum dapat melanjutkan perjalanan ke Field Terminal Sintang.
“Saat ini stok yang ada di Sintang hanya untuk kebutuhan emergency. Ada tiga kapal berkapasitas 4.500 KL sedang tertahan di Sanggau dan belum bisa melanjutkan perjalanan,” terang Rizky Firmansyah.
Untuk mengatasi BBM Langka di Sintang, Pertamina Depot Sintang mengoptimalkan pengiriman melalui jalur darat dengan mobil tangki dari Pontianak.
“Terminal di Pontianak kita operasionalkan selama 24 jam. Armada mobil tangki kita optimalkan untuk pengambilan BBM langsung dari Pontianak,” ujarnya.
Siapkan Terminal Emergency di Sanggau
Selain itu, Pertamina Depot Sintang juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sanggau untuk mencari lokasi terminal alternatif darurat.
“Kita sedang mencari terminal emergency di Sanggau untuk membongkar isi kapal, sehingga jarak distribusi bisa dipersingkat. Saat ini masih dalam tahap pengkajian keamanan,” jelas Rizky Firmansyah.
Jika skema pembongkaran darurat tersebut dapat direalisasikan, distribusi BBM ke Sintang diharapkan lebih cepat dan mampu mengurangi dampak Kelangkaan BBM Sintang.
Imbauan Hindari Panic Buying
Rizky Firmansyah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying yang justru dapat memperparah situasi BBM Langka di Sintang.
“Kami menghimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying. BBM dari Pontianak selalu ada, hanya mungkin terjadi keterlambatan karena jarak dan waktu tempuh,” tegas Rizky Firmansyah.
Pertamina juga terus berkoordinasi dengan BMKG terkait kondisi cuaca. Berdasarkan informasi BMKG, situasi ini belum memasuki fase kemarau, melainkan curah hujan yang rendah.
“Kami berharap curah hujan meningkat sehingga level air Sungai Kapuas naik dan tugboat bisa kembali beroperasi. Kami akan best effort dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tutup Rizky Firmansyah.
Dampak BBM Langka di Sintang
Kelangkaan BBM Sintang menunjukkan betapa krusialnya jalur distribusi sungai bagi wilayah hulu Kalimantan Barat.
Ketergantungan pada Sungai Kapuas menjadikan faktor cuaca dan debit air sebagai variabel utama kelancaran distribusi energi.
Jika curah hujan tidak segera meningkat, potensi gangguan distribusi masih dapat terjadi dalam beberapa pekan ke depan.
Masyarakat diimbau tetap tenang, menghindari pembelian berlebihan, serta mengikuti informasi resmi dari Pertamina Depot Sintang dan pemerintah daerah.***


Tidak ada komentar